Tuesday, March 27, 2007

aduuhh...tengsin banget saya tadi sore
naek angkot, abis dari kampus...
capek,,,lelah...dan tiba - tiba
satu rombongan keluarga naek ke angkot yang sama
mereka punya anak 2, lutchuuu......
yang satu masih balita, yang satunya lagi belom setaon keliatannya
pertama aku liatin si bayi...dia digodain ma ibunya..eh senyum
imuuttttt.......
aku ketawa coba !!! ga bisa ditahan....
trus setelah tu anak tenang..aku ngeliatin kakaknya
kupandangi wajahnya...kutatap matanya....
imuuuttt dan lucuuu banget tau...
aku berkali kali senyum ke dia... dia malah tambah ngegemesin tau !!!!
jadi inget sebuah doa
"Allahu maj'alni min azwaajina wa dzurriyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imaama"
Yaa Allah perkenankanlah aku mencicipi sedikit kenikmatan surga ini.........
betapa tak tahu bersyukurnya hamba ini
telah diberi rizki tapi tetap mengeluh
sungguh hatiku tersayat
saat membaca blog seorang kawan
beliau tidak memiliki komputer sehingga untuk mengerjakan tugas, harus mabit di tempat temen
tapi beliau jalani itu dengan kekuatan luar biasa
lha aku...?
aku suka marah - marah karna komputerku lambat buat dipake program - program berat
seperti matlab, corel, spice dall
aku pengen punya laptop supaya aku bisa lebih produktif menulis
aku pengen ini...aku pengen itu...
dan kau tidak pernah puas
akhh,............................
terimakasih sahabat, lagi - lagi dirimu menyadarkanku akan kenikmatan bersyukur
akan kebahagiaan sebuah kesederhanaan
terima kasih...
hembusan angin
engkau pernah mengirimkan nada - nada suaraku
bercerita tentang diriku
tentang duniaku
merencanakan masa depanku
hanya semuanya terasa berbeda
sekarang
aku merasa kau tak lagi menanggapiku

bayangan pohon
engkau pernah menjadi tempat berteduhku
dari panas mentari siang kala aku lelah
sejenak mengumpulkan tenaga
dan meraup segarnya udara
hanya sekarang semuanya terasa berbeda
engkau telah hilang di padang luas yang terik

aku kini seorang diri
ditengah padang terik tanpa pohonku
tanpa hembusan anginku, dan awan putihku telah pergi
akankah kau akan kembali
atau aku harus mencari lagi
awan putihku yang senantiasa memayungiku
dengan kelembutanya
atau menanam kembali
pohonku untuk berteduh di tengah terik
ataukah aku harus menunggu
hembusan angin menyapaku
mengajakku bercengkrama
walaupun mungkin semuanya akan terasa berbeda

--------------------------------------------An Ordinary Man-----
missing
hidup akan selalu penuh cobaan

penuh ujian

karena inilah sarana ujian bagiku

sejauh mana keimananku

sejauh mana kesabaranku

seberapa lama aku tidak mengeluh

dan seberapa kuat aku menjalaninya

bagaimanapun juga semua kembali padaNya

aku tahu ini begitu berat bagiku

seperti elang yang mencabuti bulu - bulunya sendiri

untuk sebuah transformasi

sungguh

betapa dhoifnya aku yang hanya bisa mengeluh

menyesali mengapa ini semua terjadi padaku

sungguh betapa mata ini telah buta

terbutakan oleh hasrat dunia

ditengah hausnya medan perjuangan seorang hamba

betapa nistanya aku

yang ingin merengkuh air laut kenikmatan duniawi

ditengah kegersangan jiwa seorang hamba

aku ingin kembali pada ibu

ibu dari totalitas dalam berjuang

ibu keikhlasan

aku ingin merasakan kembali belaian ibu

ibu dari segala kekuatan dalam medan perjuangan

ibu kesabaran

agar aku mampu merasakan betapa sayangnya Allah padaku

betapa Maha Besarnya Allah yang tengah menggembleng karakterku

dan betapa Maha Kuasanya Allah atas segala sesuatu termasuk nasibku

aku ingin kembali berlari ke arahMu ya Allah...

sungguh..tiada yang lebih kuingini saat ini selain Cinta dan Kasih sayangMu

aku lemah dan terlemahkan...

aku dhoif...

aku buta dan terbutakan...

aku ingin lebih dekat denganMu.


-----------------------------------------------An Ordinary Man-----------------
Asrama ppsdms, 17.00
ditengah kegalauan jiwa

Saturday, March 24, 2007

Resensi Buku

Judul Buku : Imperium III

Penulis : Eko Laksono

Penerbit : Hikmah-Zaman Baru (PT Mizan Publika)

Tahun Terbit : 2006

Jumlah Bab : 3

Jumlah Halaman : 455

Harga Buku : Rp. 80.000,- (pas pertama kali terbit, agustus 2006)

Ringkasan Buku :

Buku ini membahas tentang bagaimana peradaban – peradaban besar dibangun. Dimulai dari peradaban Islam, dilanjutkan dengan peradaban Eropa dan Amerika, dan ditutup dengan peradaban Jepang. Masing – masing peradaban memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, dalam dibangunnya peradaban – peradaban tersebut, bisa ditarik beberapa faktor yang menjadi inti pembangunnya. Hal tersebut adalah :

1. orang – orang yang berpikir lateral, berjiwa revolusioner, dan berkarakter pemimpin yang menjadi arsitek peradaban.

Berpikir lateral adalah kebalikan dari berpikir linier. Gampangnya, berpikir berbeda dari kebanyakan orang di sekitarnya. Orang – orang yang berpikir lateral memenuhi blantika sejarah sebagai arsitek peradaban. Peradaban Islam dibangun oleh Nabi Muhammad, yang kala sebelum menjadi rasul pun telah memiliki pemikiran yang berbeda, beliau prihatin terhadap kehidupan bangsanya kala yang lain terjebak dalam rutinitas dan jebakan kenyamanan budaya. Kemudian, mulailah Nabi Muhammad bergerak memperbaiki bangsanya, dan akhirnya gelombang revolusi itu menemui hasilnya, bangsa arab yang ‘barbar’ mampu menjadi bangsa yang hampir menguasai dunia dan menjadi pusat peradaban kedepannya. Salah satu kekuatan terbesar Nabi Muhammad adalah kemampuannya memahami pandangan, berempati, bahkan pada para pembencinya. Beliau memperbaiki dengan nilai – nilai baru yang sederhana namun mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik. Beliau pun mampu menyampaikan ide – ide besar dengan tajam tapi sederhana sehingga akan mudah dimengerti banyak orang.

Great leaders are almost always great simplifiers, who can cut through argument, debate, and doubt to offer a solution everybody can understand (Colin Powell)

Wajar bila Michael H. Hart menahbiskannya sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah sebab Nabi Muhammad memiliki kombinasi yang tak terbandingkan antara pengaruh agama dan duniawinya.

Di Eropa muncul sosok - sosok seperti Gerbert d’Aurillac, Constantine from Cartage, dan Gerard from Cremona. Mereka adalah pelopor Renaissance eropa yang memiliki pemikiran lateral, berbeda dari kebanykan orang. Mereka termasuk sedikit orang eropa yang belajar di pusat peradaban saat itu, Baghdad, untuk mempelajari segala hal, astronomi, medicine, logika, filsafat, matematika, yang kala itu dikuasai oleh orang – orang arab. Mereka bahkan dianggap memiliki ilmu hitam/ilmu sihir oleh orang eropa yang pada saat itu jangankan menulis, membaca saja mereka sulit.

Dari jepang, muncul nama – nama seperti Mori Akinori, Yukichi Fukuzawa, Shibusawa Eiichi yang kesemuanya memiliki visi besar dan revolusioner.seorang Mori Akinori nekat pergi ke Inggris untuk belajar sistem pendidikan, ekonomi, dan diplomasi pada masa kekuasaan shogun tokugawa yang apabila ketahuan oleh penguasa, hukumannya adalah hukuman mati. Yukichi fukuzawa adalah seorang arsitek pembaruan jepang. Beliau membuka mata masyarakat jepang melalui tulisan – tulisannya, dan tulisannya mampu merekonstruksi karakter bangsanya menjadi bangsa yang penuh dengan hasrat berprestasi. Sedangkan Shibusawa Eiichi adalah sosok pengusaha dengan visi kebangsaan yang besar, ingin meningkatkan ekonomi negaranya dengan meningkatkan kualitas industri dan pengusaha jepang.

2. Ilmu Pengetahuan yang dijunjung tinggi

Knowledge is power, wajar bila kalimat ini menjadi kunci kejayaan peradaban suatu bangsa. Peradaban islam jaya pada masa kekhalifahan Abbasiyah salah satu faktornya adalah dihargainya ilmu pengetahuan. Dikalangan pemimpinnya, kecintaan mereka pada pengetahuan sungguh luar biasa. Harun Al Rasyid, beliau pada masa remaja telah menyerap ilmu pengetahuan seperti Hadits, Fiqih, Filsafat Plato dan Aristoteles. Bahkan beliau gemar mengundang ilmuwan terkemuka ke istananya dan belajar. Kemudian ilmuwan tersebut diberi perpustakaan untuk mengembangkan keilmuannya. Masyarakatnya pun amat gemar membaca. Hampir di setiap sudut kota ada perpustakaan, bahkan ada satu gang yang khusus menjadi blok perpustakaan – perpustakaan.

Begitu pula di eropa, renaissance dipelopori oleh golongan terpelajar yang belajar di Baghdad, pusat peradaban saat itu. Kemudian mereka kembali ke kampung halamannya untuk menyebarkan ilmunya. Kejayaan eropa dimulai saat Guttenberg menemukan mesin cetak sehingga sontak Eropa di banjiri oleh buku – buku dan membaca kemudian menjadi kegemaran masyarakatnya.

Sedangkan orang jepang sungguh luar biasa pula dalam menuntut ilmu. Mereka mengirimkan orang – orang terbaik untuk belajar di pusat ilmu di eropa. Selain itu mereka pun mendatangkan ahli dari segenap penjuru dunia untuk memberikan ilmunya di jepang (kalo nonton the last samurai, pasti tau)

3. Visi Kebangsaan dan nasionalisme yang besar

Membangun bangsa, bukan cuma kerjaan orang per orang, namun perlu kerjasama dari elemen – elemen bangsa untuk bersinergi membangun peradaban bangsanya. Semua itu tak akan timbul apabila tidak ada kesadaran bahwa sebenarnya ada yang salah dengan bangsanya. Dan kesadaran itu tidak akan berbuah perubahan bila tidak ada kesejalanan dan kesamaan derap langkah orang – orang yang memiliki kesadaran tersebut. Mengapa muncul para pemimpin besar seperti Nabi Muhammad, Umar Bin Khaththab, Sholahuddin al Ayyubi ?. Di eropa muncul sosok Lionheart Richard, Charlemagne, Napoleon Bonaparte, Adolf Hitler, George Washington, Elizabeth I, Churchill, F.D Roosevelt, Abraham Lincoln, Benjamin Franklin ? mereka adalah orang – orang yang mampu menularkan mimpi – mimpinya, dan menginspirasi banyak orang, dan menggalang mereka dalam satu kesatuan derap langkah menuju perubahan. Dan perubahan yang digalang mereka didasari karena rasa cinta pada negaranya yang membuncah di dada mereka.

Maka, diakhir bagian dari resensi buku ini, izinkan saya mengutip penggalan “Indonesia Menggugat” oleh Soekarno

“…Maka rakyat kami (oleh kaum imperialis) dibikin rakyat yang ‘hidup kecil’ dan ‘nrima’, rendah pengetahuannya, lembek kemauannya, sedikit nafsu – nafsunya, padam kegagahannya, rakyat ‘kambing’ yang bodoh dan mati energinya.

…Kami mencoba membangkit – bangkitkan dan membesar – besarkan kemauan rakyat akan nasib yang lebih memper-nasib manusia, menyalakan lebih banyak nafsu – nafsu di dalam kalbu rakyat. Kami berusaha menghidup – hidupkan lagi kegagahan rakyat, tenaga kemauan rakyat, energi rakyat seperti sediakala.

Energi rakyat inilah salah satu urat saraf pembentukan kekuasaan kami,-salah satu urat saraf penolak daya imperialis, tetapi terutama sekali ialah urat saraf pendorong rakyat ke depan”

Rindukah teman – teman akan sosok Soekarno, sosok Hatta, sosok Syahrir, sosok Agus Salim, sosok Natsir, sosok Roem ? apa jadinya jika mereka melihat negara besar yang mereka dirikan dan wariskan untuk kita menjadi terpuruk seperti ini ? maukah teman – teman menjadi sosok yang dirindukan seperti mereka ? maka teruslah bergerak, melajulah bersama jalan sejarah karena tidak ada seorangpun yang akan mampu menghentikan lajunya…

Sebuah perubahan besar akan menggemuruh bersamanya di bumi ini.

Sebuah Puisi Tentang Cinta

kosong
saat kutemui diriku di muka zaman
memandang sayu pada lorong masa yang masih panjang
sunyi

ayunan langkah kecilku tak ingin kuhentikan
dan aku memang tak bisa berhenti
belum waktunya, masih ada yang harus dikejar
karena lorong masa belum menemui gerbang
perlahan tapi pasti pandanganku menajam

helai demi helai kegelapan tersibak
lorong yang kulewati perlahan terang
tapi aku tak bisa kembali
yang kuhadapi hanyalah gelap
dengan mata yang kucoba memicingkannya

aku tetap merasa sepi
dingin dan mencekam
aku hilang arah, jatuh tanpa kusadari
hanya kurasa ada kehangatan disekelilingku
dan baru kali ini aku merasa
aku tak sendiri

kehangatan itu turut menghangatkan tubuh dinginku
pulihkan tenaga bersiap kembali berdiri dan berlari
tapi ku tak ingin sendiri
aku ingin bersamamu
karena lorong ini terlalu sepi untuk dijalani sendiri
terlalu menipu tanpa ada yang mengingatkan
dan terlalu sunyi tanpa ada lantunanku karenamu
aku ingin kau ikut bersamaku
dan aku akan ikut bersamamu
mendadak lorong gelap menjadi begitu semarak
dan tanpa ragu, kugandeng tanganmu
berlari...
karena kuyakin kemana arah lorong ini membimbingku
Aku Ingin Seperti Elang....

Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai
umur paling panjang didunia.

Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai
umur sepanjang
itu
seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat
berat pada
umurnya yang ke 40.

Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua,
paruhnya menjadi
panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh
dadanya. Sayapnya menjadi

sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan
tebal,sehingga sangat
menyulitkan
waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai
dua pilihan:
Menunggu kematian,
atau Mengalami suatu proses transformasi yang sangat
menyakitkan ---
suatu proses
transformasi yang panjang selama 150 hari.

Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha
keras terbang
keatas puncak
gunung untuk kemudian membuat sarang ditepi jurang,
berhenti dan tinggal
disana selama
proses transformasi berlangsung.

Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada
batu karang sampai
paruh
tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam
beberapa lama menunggu

tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh
itu, ia harus
mencabut satu
persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru
sudah tumbuh, ia akan
mencabut
bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang
panjang dan menyakitkan.

Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah
tumbuh.

Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan
cakar baru, elang
tersebut mulai menjalani 30
tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!

Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus
melakukan suatu
keputusan
yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses
pembaharuan. Kita harus
berani
dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat,
meskipun kebiasaan
lama itu
adalah sesuatu yang menyenangkan dan melenakan.

Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita
agar kita dapat
mulai
terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa
depan. Hanya bila
kita
bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk
belajar hal-hal yang
baru,
kita baru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan
kemampuan kita yang
terpendam,
mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan
penuh
keyakinan.Halangan terbesar untuk
berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah
sang penguasa atas
diri anda.

Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan melayukan
semangat kita.

Anda adalah elang-elang itu.

Perubahan pasti terjadi.

Maka itu, kita harus berubah!

Pesan moral:
Great man was not born great, God uses trials and
troubles to make them
GREAT!

Monday, March 19, 2007

Privatisasi Bukan Solusi

Tak banyak kabar beredar yang memberitakan pembahasan rancangan undang – undang ketenagalistrikan tahun 2006 (RUUK 2006) di komisi VII DPR RI. Bila RUU ini disahkan menjadi Undang – undang, maka besar kemungkinan akan terjadi polemik yang sama yang mengiringi undang – undang pendahulunya, UU no 20 tahun 2002. pasalnya, RUU ini seperti UU no 20 tahun 2002 yang bangkit kembali namun dengan bahasa yang lebih smooth.

Pada RUUK 2006, pasal 8, 10, dan 11 berisi konsep unboundling. Unboundling memberikan pemahaman bahwasanya usaha penyediaan tenaga lsitrik tidak lagi dipandang sebagai satu bagian yang utuh yang dikelola dan dikuasai pemerintah, namun dibagi berdasarkan proses produksinya seperti pembangkitan, transmisi, distribusi, penjualan, pengelolaan pasar, dan pengelolaan sistem (pasal 8 ayat (2) RUUK 2006). Setiap jenis usaha tersebut dapat dimiliki oleh pihak non pemerintah seperti BUMD, swasta, swadaya masyarakat (pasal 10 ayat (3) RUUK 2006). Pada daerah yang memungkinkan secara teknis dan ekonomis usaha pembangkitan dan penjualan tenga listrik dikompetisikan (pasal 11 ayat (1)RUUK 2006). Hal yang sama juga terdapat pada Undang – undang no 20 tahun 2002 terutama pasal 8.

Pada dasarnya inti dari RUUK 2006 dan uu no 22 tahun 2002 adalah privatisasi atau liberalisasi ketenagalistrikan. Hal yang melatarbelakangi liberalisasi ketenagalistrikan ini tak lain adalah beban subsidi listrik yang terlalu besar yang dirasakan pemerintah sebesar 38 triliun rupiah (desember 2006). Di lain sisi, PLN sendiri malah menanggung kerugian 4.9 triliun rupiah pada 2005 dan Rp.1,2 triliun pada 2006.

Diharapkan dengan liberalisasi sektor ketenagalistrikan ini, beban subsidi listrik pemerintah bisa berkurang, selain itu pendapatan pemerintah pun bisa bertambah dengan adanya pajak yang dikenakan pada swasta. Diharapkan pula, akan ada kompetisi harga yang bersaing diantara provider energi listrik sehingga harga listrik bisa terjangkau. Liberalisasi listrik diharapkan pula mampu menaikkan rasio elektrifikasi yang masih kurang dari 60 persen ini sehingga mampu mempercepat pembangunan di daerah – daerah yang saat ini belum terjangkau jaringan listrik.

Bukan Solusi

Bila dianalisis lebih lanjut, privatisasi ketenagalistrikan ini tidak menyelesaikan permasalahan yang ada, baik itu subsidi listrik, kerugian PLN, harga listrik yang makin tak terjangkau, maupun rasio elektrifikasi. privatisasi ini adalah sebuah langkah pragmatis yang mengejar keuntungan sesaat untuk kemudian mengorbankan kepentingan rakyat banyak.

Liberalisasi hanya akan memindahkan monopoli listrik dari pemerintah kepada pihak swasta tanpa ada efek lebih yang diharapkan seperti harga yang terjangkau. privatisasi hanya akan mengubah status kepemilikan bukan harga produk atau mutu produk seperti yang dimimpikan masyarakat. Hal ini menjadi keniscayaan sebab iklim kompetisi yang diharapkan terjadi, malah tidak terkondisikan. Pihak swasta akan lebih memilih melakukan konsentrasi produksi dan distribusinya serta melakukan integrasi vertikal dengan penyedia infrastruktur ketenagalistrikan untuk tetap menjaga margin profit yang diharapkan daripada berkompetisi. Akibatnya, harga listrik tetap bahkan semakin mahal dan tak terjangkau sehingga rakyat kecil kembali menjadi tumbal kapitalis yang berkuasa di sektor privat.

Latar belakang dari privatisasi adalah terus meruginya PLN. Permasalahan kerugian PLN berakar pada besarnya biaya operasional pembangkit terutama yang menggunakan BBM. Apabila penggunaaan BBM ini dialihkan ke gas, maka besar kemungkinan PLN akan mendapatkan keuntungan. Biaya pokok produksi apabila diopersaikan dengan BBM jenis HSD (untuk PLTG) adalah Rp.1.222 – Rp 1.560 /kWh. Apabila mengggunakan BBM jenis MFO (untuk PLTU) biayanya kurang lebih Rp.1000/kWh. Sedangkan apabila menggunakan gas, biayanya hanya Rp.192 – Rp.246/kWh. Penggunaan bahan bakar gas yang menurunkan biaya operasional ini diharapkan pula akan mampu menurunkan harga listrik menjadi jauh lebih terjangkau.

Dalam permasalahan beban subsidi listrik yang ditanggung pemerintah, sebaiknya perlu dikaji ulang pemberiannya. Sebab rasio elektrifikasi di Indonesia masih sekitar 52%. Artinya, masih ada 48% rakyat Indonesia yang masih belum menikmati listrik. Tentunya golongan ini adalah golongan masyarakat miskin. Pemberian subsidi listrik tentunya hanya dinikmati 52% penduduk, sedangkan sisanya yang jauh kurang sejahtera malah tidak bisa menikmati subsidi tersebut.

Akan menjadi langkah yang positif bila anggaran subsidi tersebut dialokasikan untuk pembangunan pembangkit listrik baru. Diharapkan dengan dibangunnya pembangkit listrik baru ini akan mampu mencukupi kebutuhan listrik nasional. Kecukupan energi listrik akan mampu pula menurunkan harga listrik menjadi lebih terjangkau asalkan biaya operasional berhasil ditekan salah satunya dengan menggunakan bahan bakar gas.

Konsekuensi yang harus dihadapi pemerintah dengan re-alokasi subsidi listrik menjadi investasi pembangunan pembangkit tenaga listrik adalah adanya kenaikan tarif dasar listrik di awal pelaksanaan kebijakannya. Harus ada pemahaman yang diberikan kepada masyarakat luas untuk mengantisipasi gejolak sosial sehingga masyarakat bisa menerima keputusan ini. Toh, masyarakat pula yang akan diuntungkan kedepannya karena harga akan turun sejalan dengan semakin tercukupinya kebutuhan listrik. Selain itu, pemerintah harus konsisten dalam penggunaan dana anggaran ini, jangan sampai terjadi kasus korupsi dalam pelaksanaannya.

Inti Permasalahan

Permasalahan ketenagalistrikan ini sekali lagi berakar pada keberanian pemerintah dan keberpihakan kebijakannya pada kepentingan rakyat banyak. Masalah listrik ini hanyalah satu bagian konsekuensi yang harus dijalani pemerintah akibat kebijakan yang tidak populis dan terkesan pragmatis. Salah satu kebijakan yang imbasnya ke sektor ketenagalistrikan ini adalah UU Migas no 22/2001 yang berakibat migas negeri kita lebih banyak porsi ekspornya daripada porsi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Akibatnya, PLN sendiri mengalami kesulitan dalam mendapatkan suplai gas untuk keperluan pembangkitnya, sehingga masih menggunakan BBM yang notabene biaya operasionalnya jauh lebih tinggi.

Selain itu, sifat keukeuh pemerintah dalam menggolkan RUUK 2006 patut dipertanyakan. Apakah pemerintah belum belajar dari dibatalkannya UU no 20 tahun 2002 yang jelas – jelas bertentangan dengan UUD 1945 pasal 33 ayat (2) ? pasal 33 ayat (2) yang berbunyi cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara harus dimaknai bahwa negara harus menguasai, memiliki, menjalankan, dan memonopoli cabang produksi tersebut. Jangan sampai pemahaman yang berkembang adalah menguasai tidak harus memiliki selama itu menguntungan pemerintah, sebab bila pemahaman tersebut yang berkembang, apa bedanya pemerintah dengan pelacur ?

Pada akhirnya semuanya kembali pada pemerintah. Apakah pemerintah akan berani mengambil kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil alih – alih pada kaum kapitalis yang menanti di gerbang privatisasi ? hanya saja perlu dicatat bahwa jauh lebih dicintai dan dikenang pemerintah yang memperjuangkan bangsanya, rakyatnya, dan negaranya daripada pemerintah yang manut pada kepentingan ‘juragan – juragan’ berkantong tebal yang tengah berburu uang.

Peluang Kebangkitan Ekonomi Rakyat Ditengah Ancaman Privatisasi Listrik

Ditengah arus deras privatisasi ketenagalistrikan yang dikhawatirkan memahalkan listrik, muncul setitik harapan akan pencukupan kebutuhan listrik sekaligus murah melalui pemberdayaan potensi kerakyatan. Adalah Tri Mumpuni yang mengawali sebuah gerakan moral – sosial – ekonomi – teknologi yang menerbitkan sebuah harapan baru untuk masa depan yang lebih baik. Gerakan ini sejalan pula dengan cita – cita ekonomi kerakyatan yang bercirikan adanya pengerahan partisipasi rakyat di dalamnya dalam wadah koperasi. Ini akan menjadi secercah cahaya untuk terciptanya suatu tatanan kehidupan sosial ekonomi dan teknologi rakyat yang kokoh.
Privatisasi sendiri adalah proses pengalihan kepemilikan dari milik umum menjadi milik pribadi. Di mata kaum kapitalis, privatisasi ini akan memunculkan pasar bebas sehingga menimbulkan harga yang kompetitif pada konsumen. Sebaliknya, bagi kaum sosialis, privatisasi akan berakibat penurunan kualitas produk baik barang maupun jasa akibat penghematan – penghematan yang dilakukan perusahaan untuk mencapai profit.
Berbicara tentang privatisasi di sektor ketenagalistrikan, banyak pro kontra yang berkembang di masyarakat. Pendapat yang setuju pada privatisasi listrik dilatarbelakangi oleh pandangan yang menilai monopoli listrik sudah tidak relevan lagi. Hal ini disebabkan perkembangan teknologi yang cepat dan heterogennya konsumen listrik menyebabkan listrik terlalu riskan untuk diletakkan pada satu tangan. Sebab bisa jadi rakyat akan membayar terlampau mahal untuk produk yang kurang baik dengan kapasitas yang kurang memadai.
Sedangkan yang kontraprivatisasi listrik menilai bahwa bisa jadi penguasaan listrik pada sektor swasta yang notabene profit oriented malah akan membuat listrik menjadi mahal dengan mutu yang kurang baik pula. Terbukti dari industri penerbangan yang diprivatisasi kemudian malah menomorduakan mutu pesawat akibatnya banyak terjadi kecelakaan. Bisa jadi hal yang sama terjadi pada listrik. Selain itu, belum jelas pula manfaat yang bisa diraih pemerintah dari langkah privatisasi listrik ini. Di sisi yang lain, bahaya pemecatan karyawan PLN akibat berkurangnya ‘lahan’ PLN akan mengintai dan akan menambah besar jumlah pengangguran di Indonesia. Hal ini tentu saja akan menimbulkan masalah sosial baru di masyarakat.
Bila ditarik benang merah dari masalah ini, Bangsa Indonesia belum siap untuk melakukan privatisasi di sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak, salah satunya adalah listrik. Sebab untuk menjamin produk yang berkualitas dan harga yang bersaing dibutuhkan sebuah iklim kompetisi yang menunjang. Hal inilah yang belum terkondisikan di tanah air. Apabila dipaksakan, maka yang terjadi hanyalah perpindahan monopoli dari pihak pemerintah kepada pihak swasta. Sebab pada kasus ini, privatisasi hanya akan mengubah status kepemilikan bukan harga produk atau mutu produk seperti yang dimimpikan masyarakat. Akibatnya, rakyat kecil kembali menjadi tumbal kapitalis yang berkuasa di sektor privat.
Disaat secara kultur ekonomi, bangsa ini belum siap melakukan privatisasi listrik, privatisasi ketenagalistrikan sendiri malah sempat mendapat lampu hijau dari konstitusi. Hal ini ditandai dengan keluarnya Undang – Undang nomor 20 tahun 2002 tentang ketenagalistrikan. Pasal 8 UU No. 20/2002 tersebut berbunyi, usaha ketenagalistrikan secara keseluruhan mencakup dua bidang usaha sebagai berikut: usaha penyediaan tenaga listrik dan usaha penunjang tenaga listrik. Bila usaha penyediaan tenaga listrik terdiri dari tujuh bidang usaha sebagai berikut: (a) usaha pembangkit listrik; (b) usaha transmisi tenaga listrik; (c) usaha distribusi listrik; (d) usaha penjualan tenaga listrik; (e) agen penjualan tenaga listrik; (f) pengelola pasar tenaga listrik; dan (g) pengelola sistem tenaga listrik. Hal ini menandakan sektor ketenagalistrikan tidak lagi terlaksanakan secara integral oleh suatu badan usaha, dalam konteks negara kita adalah PLN, namun terbagi – bagi pelaksanaannya oleh badan – badan usaha. Hal ini tentu saja sama dengan ucapan selamat datang pada sektor privat. Beruntung, setelah banyaknya gugatan, undang – undang ini dibatalkan oleh mahakamah konstitusi tahun 2004.
Ditengah pergulatan yang panjang inilah muncul harapan baru untuk hari esok yang lebih baik terutama dalam penyediaan energi listrik. Sebuah gerakan moral – sosial – ekonomi – teknologi digalang untuk mampu memainkan peran lebih dalam pemberdayaan potensi masyarakat kecil. Tri mumpuni menjadi pionir gerakan ini dan terbukti mampu memadupadankan konsep ekonomi kerakyatan dengan laju modernisasi dan teknologi yang berorientasi pada peningkatan harkat hidup kesejahteraan rakyat.
Dalam perjuangannya, Mumpuni menginstalasi pembangkit listrik energi mikrohidro yang mampu menghasilkan energi listrik sekitar 100 KWh untuk mencukupi kebutuhan listrik di desa – desa. Kemudian pengelolaannya diserahkan kepada koperasi setempat yang keuntungannya digunakan pula untuk kesejahteraan masyarakat daerah tersebut. Hasilnya, sebuah desa di Subang yang warganya menguasai 50 persen kepemilikan dari kerja samanya dengan perusahaan swasta lokal. Di sebuah desa di Sumba kepemilikannya bahkan 100 persen, dikelola Koperasi Unit Desa (KUD). Di satu desa di Sumatera Selatan, suatu koperasi pesantren mendapat penghasilan Rp 60 juta per bulan dari listrik yang dijual ke Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Gerakan ini menjadi sebuah sinyalemen kebangkitan ekonomi rakyat yang identik dengan koperasi. Ekonomi rakyat, setelah terkuaknya fenomena bubble economy, mulai dipandang sebagai tulang punggung perekonomian di Indonesia. Maka dari itu, keberadaan dan letak strategis koperasi dalam perekonomian perlu dikaji ulang sehingga koperasi ini mampu diikutsertakan dalam kegiatan bisnis, produksi, distribusi, dan konsumsi. Sehingga dari sini diharapkan pemberdayaan potensi rakyat akan terwujud sehingga mampu meningkatkan harkat hidup rakyat sendiri khususnya masyarakat ekonomi lemah.
Koperasi sendiri oleh pendirinya, Mohammad Hatta, dianggap sesuai dengan jiwa rakyat Indonesia dan kemudian prinsip – prinsip menjadi bagian dari blue print ekonomi nasional seperti yang termaktub dalam Undang – Undang Dasar. Dalam konstitusi, koperasi sendiri memiliki kedudukan hukum yang kuat sebagaimana termaktub dalam undang – undang dasar pasal 33 yaitu ekonomi disusun berdasar atas usaha bersama berdasarkan atas prinsip kekeluargaan. Hal ini kemudian diperkuat dengan dikeluarkannya undang – undang nomor 25 tahun 1992 yang dalam salah satu isinya berbunyi bahwa fungsi dan peran koperasi salah satunya adalah memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan ekonomi nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya.
Akan tetapi pelaksanaannya tidak demikian. Koperasi tidak mampu melebarkan sayapnya karena keterbatasan terhadap akses yang menunjang seperti teknologi, pasar, iklim usaha, dan investasi. Orde baru yang memerintah pada jangka waktu yang lama tidak mampu mengembangkan koperasi malah menjeratnya dalam praktik KKN. Pada masa itu, koperasi tidak lebih sebagai kedok terciptanya demokrasi ekonomi. Hal ini terlihat dari anjuran orde baru kepada para pengusaha besar untuk bekerja sama dengan koperasi, namun hal itu tak lebih dari sekedar ‘sumbangan’ dari orang kaya ke orang miskin. Hal ini semakin membenamkan koperasi yang ironisnya bangsa ini meyakininya sebagai pilar penguat ekonomi rakyat sebagaimana tercantum dalam undang – undang perkoperasian.
Gerakan yang digalang Tri Mumpuni ini menandakan babak baru perkembangan perkoperasian tanah air. Banyak hal menggembirakan dan bermakna yang bisa kita petik dari sini. Pertama, potensi rakyat benar – benar terberdayakan. Hal ini terlihat dari pengelolaan usaha pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) ini oleh rakyat dalam bentuk koperasi sehingga rakyat mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan perekonomian. Selain itu, hal ini turut mencerdaskan rakyat dalam segi teknologi dan manajemen sehingga kualitas kecerdasan masyarakatnya akan meningkat. Dari sisi koperasi sendiri hal ini tentu saja membuat koperasi berhasil mendapatkan akses ke gerbang teknologi, pasar, dan investasi. Akses ke aspek vital ini diharapkan melahirkan koperasi yang mampu mandiri dan memiliki kemampuan kompetisi pasar yang kuat sehingga mampu merealisasikan peran dan tujuannya sebagai soko guru perekonomian nasional.
Memang apabila dilihat dalam skala usaha, gerakan yang dipelopori Tri Mumpuni ini hanya meliputi skala kecil, skala desa. Berbeda dengan skala usaha perusahaan - perusahaan besar yang melingkupi skala provinsi bahkan nasional. Namun, gerakan ini harus menjadi langkah awal bagi pemberdayaan potensi rakyat, dan menjadi pertimbangan pemerintah dalam membuat kebijakan. Gerakan ini harus dilihat sebagai gerakan moral atas keprihatinan kebijakan ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Selain itu, gerakan ini harusnya mampu membuka mata pemerintah bahwa secara sumber daya manusia, kita mampu mencukupi kebutuhan vital bangsa ini.
Selain itu, gerakan ini harus menjadi cambuk bagi pemerintah untuk lebih memberdayakan potensi rakyat dan tidak menjadikan rakyat hanya sebagai objek pembangunan saja melainkan harus turut melibatkannya dalam pembangunan. Penempatan rakyat sebagai objek pembangunan hanya menjadikan karakter rakyat kita hanya sebagai konsumen sehingga budaya konsumtif yang berkembang. Pelibatan rakyat dalam pembangunan akan meningkatkan kreativitas rakyat dalam iklim usaha sehingga mental yang terbentuk adalah mental produktif dan berdaya saing global.
Bagi dunia perkoperasian sendiri, gerakan ini harus mampu mengubah paradigma perkoperasian kita yang berkisar di tataran koperasi konsumsi dan simpan pinjam saja. Gerakan ini mampu menggeser pandangan koperasi menjadi produsen dan memiliki sistem manajemen modern. Selain itu, kekuatan teknologi dan segmentasi pasar tersendiri akan mampu menambah daya saing koperasi selain harga yang bersaing dan daya penawarannya berbeda karena orientasi yang bukan semata pada profit.
Bahkan untuk kasus ketenagalistrikan ini, perkembangan yang bisa dicapai oleh koperasi akan sangat luar biasa. Bayangkan wilayah Indonesia yang begitu luas dengan potensi energi yang besar sementara masih cukup banyaknya daerah yang belum tersentuh energi listrik. Bila potensi ini bisa dibidik dengan cepat dan tepat, niscaya perkembangan ekonomi kerakyatan melalui koperasi akan semakin berkembang dan mengokohkan ekonomi bangsa. Pada akhirnya hal ini akan turut meningkatkan harkat hidup rakyat banyak.
Pada akhirnya, gerakan ini harus dipandang sebagai sebuah mainstream baru pemberdayaan potensi rakyat guna memperkokoh pembangunan bangsa ini. Privatisasi yang hendak digulirkan pemerintah harus dikaji ulang sebab telah ada secercah harapan bangkitnya ekonomi kerakyatan melalui koperasi yang jauh lebih kuat, lebih kokoh dengan adanya akses ke aspek teknologi, pasar dan investasi. Jangan sampai privatisasi listrik yang digulirkan malah akan mematikan potensi yang belum berkembang secara meluas ini. Selain itu, pemerintah perlu menelaah ulang keputusan untuk memprivatisasi listrik, apakah telah jelas keuntungannya sendiri baik untuk negara maupun untuk rakyatnya ? jangan sampai privatisasi yang dilakukan kelak justru hanya memindahkan monopoli dari pihak pemerintah pada swasta yang justru akan berakibat sektor ini dikuasai kapitalis yang terbukti lebih memilih profit daripada kesejahteraan rakyat banyak.
Maka dari itu, dibutuhkan peran pemerintah sebagai regulator, fasilitator, dan dinamisator dalam perkembangan koperasi berbasis teknologi ini sehingga perekonomian bangsa ini kembali memiliki fondasi kokoh di tataran ekonomi rakyatnya. Selain itu, kontribusi dari kaum ilmuwan dan teknolog serta penyandang dana akan sangat penting bagi keberjalanan ini. Mari jadikan peluang ditengah ancaman privatisasi listrik ini menjadi kunci kebangkitan ekonomi rakyat melalui koperasi.

Wednesday, January 31, 2007

Hari berat.......

bisa dibilang hari ini adalah hari yang cukup berat bagiku. tadi malam aku memutuskan untuk menceritakan sebagian rahasiaku pada seseorang. yah..Ia kemudian menjadi orang kedua yang tahu rahasiaku yang tersampaikan langsung dari mulutku. esoknya, aku merasa agak malu padanya, tentang masa laluku, tentang who I am lebih jauh. aku jujur ingin bertanya apakah kehidupanku menyedihkan baginya, saat kulihat dia tertunduk sedih lalu tertidur
hari ini, aku diliputi rasa malu pada orang tersebut, aku tak tahu apa yang dipikirkannya, kasihankah ?, biasakah? anehkah melihatku ? atau kaget? yang pasti aku cuma merasa canggung.
aku tak tahu, tapi entah tiba - tiba kau merasa bersalah. tapi apa boleh buat, semuanya telah terjadi. satu keyakinanku
Everything will change
Everything has changed
sebuah keniscayaan perubahan itu, dan begitu pula perubahan kehidupanku....hopefully.....
pada dasarnya aku telah melangkah lebih jauh, membuka sedikit tabir misteri diriku, tapi biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya. my future would glow like a star
future has been set, azzam has been said, feet has been stepped, let's make a brand new story my love.....

Sunday, January 28, 2007

lagu.................................


in the middle of changing season,
I casually feel how long the day is
In the middle of restless busy days
You and I paint our dream
Place our love on the winds of March
A cherry blossom sprout will move on into spring
Little specs of overflowing light
Warm up the morning little by little
By your side when you're embarrassed
after a big yawn

standing at the entrance to a new world
what I noticed was that I wasn't alone
By closing my eyes
then you who I see behind my eyelids
Has somehow helped me become stronger
I too want to be like that for you

lirik ini adalah soundtracknya film one litre of tears, entah kenapa bait yang saya tebelin adalah satu bait favorit saya. sesuai banget ama yang saya alami. kita memiliki orang - orang yang entah mengapa memiliki kekuatan yang memnbuat kita kuat, kala menghadapi dunia baru, kala merasa sendiri. pun juga diriku. dia akan tetap menyinari alam kehidupanku, manyaksikan hidupku, dan aku harap beliau berbahagia melihatku.

aku tahu, tak sedikitpun aku mampu menebus semua yang telah kau berikan, namun ijinkanlah ku memberikan yang terbaik, yang aku mampu. aku tak pernah tahu apa yang beliau rasakan tentangku, namun memandang matamu, ku temukan kenyamanan. aku menemukan kekuatan dalam sorot matamu. dan kala kusadari, aku ada di bola matamu, rasanya aku ingin tetap berada di sana. engkau tahu, bahwa ini membantuku menguatkanku. jujur, aku ingin seperti itu juga bagimu, menguatkanmu...
bunda

Saturday, January 20, 2007

Penjelasan AA gym tentang poligaminya

sebenernya ini udah ada di internet, search aja di google pasti ketemu, saya ikut - ikutan nampilin doang, siapa tau ada yang belom dapet. buat AA, Insya Allah bila niat lurus, akan diberkahi oleh Allah, semoga kebenaran yang AA sampaikan mampu membuka jalan bagi kelembutanhati orang - orang yang tadinya berhati keras terhadap AA. berikut ini cuplikan penjelasan AA tentang pernikahan keduanya

Alhamdulillah, rekan-rekan sekalian. Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh kita semua. Saya akan menyampaikan, sesuatu yang sangat sangat penting, dan...hal yang dianggap akan menjadi hal yang strategis untuk siapapun yang menginginkan perubahan.

Saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh civitas santri daarut tauhiid, andaikata keputusan yang aa ambil ini membuat banyak ketidaknyamanan. Pertama, ketidaknyamanan perasaan karena informasi yang kurang jelas. Yang kedua, ketidaknyamanan...karena mungkin bertentangan dengan sebagian keyakinan. Yang ketiga, karena akan ada dampak bagi Daarut Tauhiid, MQ maupun Kopontren.

Keputusan berpoligami ini bukan hal yang ringan, saya sadar sepenuhnya akan dampak (baik dan buruknya). 5 tahun dibahas, prolognya sudah sering dibacakan, apa gerangan alasannya, mengapa mengambil resiko yang sangat besar seperti ini?
Pertama, kita lihat bahwa...kata poligami bagi sebagian masyarakat indonesia masih dianggap sesuatu perilaku yang buruk. Tidak heran bila ibu-ibu memberi nasihat..."Jangan berpoligami...!"

Apalagi dengan adanya kejadian ini, sms yang... -sebagian sms yang saya lihat-...ibu-ibu yang begitu marahnya, sampai mau meludahi, memukul kalau bertemu AA, buku-buku disobek, potret tidak mau dilihat. Ini adalah bukan hal yang membuat kita emosi, tapi ini peta(?tidak terdengar jelas), betapa belum semua orang bisa siap mendengar kata poligami.

Ini menjadi pikiran...shalat jalan, shaum jalan, haji, umrah...tapi ketika mendengar kata poligami...tersengat. Menjadi marah, menjadi...ghibah, seakan ada hukum Allah yang salah. Saya mengerti...bahwa wanita begitu berat mendengar kata ini, dan ini manusiawi. Tetapi...manjadi tidak yakin kepada kebenaran, khususnya yang satu ini, menjadi memaki, memusuhi...ini yang harus kita bantu perbaiki.

Kita lihat juga, pada saat yang sama, pergaulan bebas, perzinahan, ttm...menjadi...sepertinya bukan sebuah perilaku buruk, masyarakat makin permissive terhadap hal ini. Saya sebetulnya menunggu akan ada tokoh yang berani mengubah paradigma ini, seperti zaman jilbab dulu.

Saudaraku sekalian, sesudah istikharah hampir satu tahun, maka...walaupun mungkin ada banyak kekurangan dan kesalahan di dalam pengambilan keputusan ini, saya memilih untuk melakukannya. Mengapa baru diumumkan sekarang? seperti halnya sepak bola, karena ini membutuhkan tim yang tangguh, saya harus menanti saat tim saya kuat...Teh Ninih, Anak-anak, Orang Tua. Besar harapan, Allah membuka waktunya, dan Alhamdulillah, pertolongan Allah...kemarin diberi kesempatan dibuka waktunya.

Satu...hikmahnya, bagi saya pribadi, ini saat yang paling tepat untuk menguji apakah selama ini saya menikmati pujian, penghargaan, popularitas, penghormatan, atau saya berjuang karena ingin sesuatu yang saya yakini benar. Alhamdulillah, dengan adanya situasi ini, betapa banyak perhatian dalam aneka bentuk, caci maki, kutukan, ancaman...dan saya sependapat seperti yang dikatakan pak Miftah Faridl, kita harus ikhlas menerima caci maki ini, andai kata kita benar-benar mau komit. Alhamdulillah...

Hikmah yang kedua, inilah kesempatan bagi masyarakat. Saya ingin tahu, dakwah saya selama ini mengajak orang komit kepada hukum Allah, aturan Allah, atau baru komit kepada suka Abdullah Gymnastiar. Kalau dia komit kepada hukum, berarti tidak ada masalah. Ini hal yang halal, ini hal yang dibolehkan, bukan dianjurkan...ini hal yang, juga Rasulullah tidak melarang, sahabat juga melakukan. Ini hal yang, aturan negara juga memberikan peluang. Ini bukan kejahatan, ini bukan zina, ini bukan selingkuh...INI HALAL!! Sesuatu yang halal, sesuatu yang boleh, tetapi mengapa sebagian orang sampai seperti itu kata-katanya? Berarti...saya dakwah belum berhasil membuat orang lebih yakin kepada kebenaran dari Allah, baru sampai kepada figur AA Gym. Ini baik hadirin, untuk menguji sampai sejauh mana efek dakwah.

Bagi saya pribadi, ini cobaan yang luar biasa mantapnya. Ternyata, poligami tidak semudah diucap. Setiap hari teruji sekali, bagaimana 2 istri ini dari sudut yang berbeda? belum lagi anak-anak, belum lagi masyarakat...menguras...AA pemula belum pernah berpoligami sebelumnya. Guru-guru saya juga jarang yang berpoligami terbuka. Ada yang nasihat diam-diam, ada yang memberi nasehat bagus...belum juga. Jadi, untuk terbuka secara nasional, belum ada gurunya. Dan ini tidak mudah, hadirin. Kalau ada gurunya mungkin lebih mudah.

Tetapi, saya yakin, saya bukan melakukan kejahatan. Saya tidak melakukan kemaksiatan, ini legal, ini halal...Bismillah. Hikmahnya, jadi lebih sungguh-sungguh bergantung kepada ALlah. Kepada siapa lagi, selain kepada ALLAH? Maha suci ALlah, mudah2an besok lusa akan nampak karunia ALlah lainnya bagaimana kita sudah serius menggantungkan kepada Allah.

Hikmah untuk istri saya. Ada yang bertanya..."AA Gym kurang apa teh Ninih? Teh Ninih baik, pandai, sholehah, cantik." Sulit saya mengemukakan...ini adalah tanda cinta saya kepada istri saya. Saya tahu istri saya sangat baik, dan saya ingin istri saya menjadi lebih baik. Saya rindu melihat teh Ninih menjadi bidadari di sorga kelak...dan saya tahu...saya adalah salah satu penghalang yang membuat teteh bisa mencintai Allah sepenuh hati. Siapa suami yang tidak rindu istrinya menjadi pecinta Allah? Saya pasti mati...Apa yang bisa dilakukan oleh seorang suami yang cinta ke istrinya, kecuali ingin menjadi pecinta Allah yang dapat menjamin dirinya. Tapi, saya susah menjelaskan ini kepada umum. Saya tahu istri saya akan sakit. Tetapi seperti yang disuntik vitamin, mungkin sakit sebentar, besok lusa dia akan lebih kuat. Kalau saya nanti mati, mudah2an inilah warisan terbaik sebagai tanda cinta saya kepada istri saya...Saya percaya betul teteh akan kuat. Ayahnya ulama, nenek-kakeknya ulama, adik-kakaknya orang-orang yang terjaga, dia didoakan banyak orang. Saya tahu bagaimana teteh bangun malam. Saya ingin teteh hanya mencintai Allah daripada mencintai saya (AA Gym berbicara sambil menangis). Ini benar hadirin...(pada bagian ini, terdapat jeda beberapa detik, karena AA Gym dipeluk oleh seorang koleganya, dan terdengar juga suara tangisan AA Gym. Sebetulnya, di bagian ini, jika mendengarkan rekamannya lebih mengharukan daripada sekedar tulisan di sini. Karena emosinya lebih terdengar, dan pada beberapa bagian kalimat, AA Gym berbicara sambil menangis).

Susah saya mengungkapan dengan bahasa umum...

Mudah2an besok lusa, cita-cita saya, teteh selama di bumi ini menjadi ulama wanita, yang benar2 sesuai perkataan dan perbuatannya. Saya lihat umat terlalu banyak berkiblat kepada saya, ini tidak sehat. Jarang ada ulama wanita yang begitu penuh(?). Saya harus menggeser cinta para muslimah, mungkin lebih tepat kepada figur seorang ulama wanita. Saya siap menerima caci maki, saya siap dihina orang, saya siap dijauhi orang...mudah2an Allah menerima ini sebagai tanda cinta saya kepada teh Ninih, cinta saya kepada ummat, untuk mendapat figur yang lebih tepat. Wallahualam, Allah lah yang Maha Tahu. Hanya waktu yang akan memberikan bukti ini.

Mengapa saya berbuat kejam kepada anak2 saya? Bukan kejam. Siapa yang lebih mencintai anaknya selain orangtuanya sendiri? Apakah cinta dengan dibiarkan dia tidak mengenal kebenaran? Apakah cinta dibiarkan dengan segala sesuatu yang enak? Saya ingin anak saya tidak (pernah/terlalu?) mengatakan sesuatu yang salah tentang hukum Allah. Dia harus mengatakan bahwa ini adalah hukum Allah. Nggak boleh dicacati hati ini terhadap kebenaran dari Allah. Tidak mungkin Allah membolehkan sesuatu yang akan mencelakakan manusia. Tidak mungkin Allah memberikan aturan yang akan mencelakakan dan membinasakan, Allah yang paling tahu tentang manusia.

Saya tahu luka hati Gaida, Ghazi dan beraat sekali bagi saya. Tapi, saya percaya sepenuhnya saya tidak berbuat jahat. Ini adalah kebenaran yang tidak umum dilakukan. Alhamdulillah. Dan saya ingin anak-anak saya kuat, terlatih menghadapi yang sulit. Selama ini enak, dipuji, dihargai. Mereka akan menghadapi teman-temannya, lingkungannya. Saya ingin mereka kuat menjadi anak-anak yang kuat, dan mereka harus belajar berbagi kebahagiaan dengan yang lain.

Alhamdulillah. Tadi pagi sebelum anak-anak pergi ke sekolah...katakan Anakku untuk bapakmu..."harus kuat pak, harus kuat..". Anak-anak memberikan dukungan luar biasa. Saya dapat sms dari gurunya..."Anak-anak AA kuat dan tegar, di sekolah biasa, walaupun saya tahu biasanya yang lain terpuruk".

Saya percaya pertolongan Allah, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan. Untuk daarut tauhiid, inilah saatnya, saudara lebih banyak bergantung kepada Allah daripada kepada Abdullah Gymnastiar. Mungkin akan ada penurunan jumlah jama'ah yang datang, pelatihan, pembeli...kalau saudara bergantung kepada Abdullah Gymnastiar, inilah saatnya saudara kecewa. Yang membagi rezeki bukanlah saya, Allah yang maha kuasa. Kita sudah sering mengatakan,"suatu saat jangan bergantung kepada AA". Inilah saatnya. Yang daftar ke MQ Travel ada yang membatalkan, TIDAK APA-APA, BAGUS!! MEREKA HARUS LURUS NIATNYA!! Bukan karena AA Gym, HARUS KARENA ALLAH!!. Tamu ada yang membatalkan datang ke sini..ITU BAGUS!! Mereka tidak boleh datang karena manusia, mereka harus datang karena mau mencari ilmu, mencari kebenaran. Saya tidak melihat kerugian dengan berkurangnya orang datang, berkurangnya transaksi jual beli, disanalah keberuntungan dari ALlah, agar kita bener-bener tauhiid nya lurus.

Bagi kaum muslimah, yang takut suaminya menikah lagi, yang tiba-tiba menjadi benci kepada teh Rini... Teh Rini hanyalah seorang makhluk yang ditakdirkan oleh Allah menjadi bagian dari terjadinya ketentuan ini. Insya Allah, suatu saat mudah2an teh Ninih bisa menjelaskan apa hikmahnya. Apakah saudara benci kepada sesama wanita sendiri, dengki sehingga seperti yang dikatakan pak Miftah Faridl, berbuat sadis...orang yang berghibah itu orang yang dianggap sadis, karena seperti memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Ini ujian keimanan bagi AKhwat. Bagi lelaki, ikhwan di daarut tauhiid, ini juga ujian keimanan, apakah serta merta ingin melakukan hal yang sama, padahal tidak tahu ilmunya?

Bagi ummat, ini adalah saatnya, mengetes apakah yang dicari selama ini hanya sesuatu yang enak, sesuai dengan seleranya, atau yang dicari yang benar menurut ALlah SWT. Mengapa begitu marah kepada saya? Karena tidak sesuai dengan harapannya. Harusnya, ummat menginginkan saya sesuai dengan harapan Allah, bukan harapannya. Alhamdulillah, akan ada saatnya sebagian orang tidak mau mendengar,menjauh, marah...tetapi saya percaya setiap hati itu adalah dalam genggaman Allah. Saat ini benci, belum tentu besok akan benci. Saat ini mencaci, belum tentu besok akan mencaci. Mengapa? Karena yang menanamkan cinta bukanlah rekayasa kita, yang menanamkan cinta hanyalah Allah SWT. Insya Allah, bagi saya tidak ada masalah, dihina, dicaci, dikutuk, diancam...ini adalah bagian yang belum pernah saya jalani selama ini.

Saudaraku sekalian, ini akan berproses beberapa waktu. Kalau saudara mengharapkan pertolongan ALlah dan ikhlas, semuanya menjadi mudah. Kalau saudara mencintai dunia, mencintai pujian, penghargaan, bergantung kepada makhluk...inilah saat yang terberat yang saudara jalani. Barang siapa yang Allah baginya, Hasbiyallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'mal nassir.

Saudaraku sekalian, mudah2an kedepan dengan ijin ALlah akan terbukti, bentuk cinta seorang suami kepada keluarganya, kepada ummatnya, Insya ALlah. Saya harus kuat menjaga keikhlasan ini, saudarapun teruji kesetiaan, cinta kepada AA. Saya tidak berharap agar rekan2 mencintai, membela saya...Jangankan kepada rekan2, kepada teh Ninih saja..."Mamah, AA tidak menuntut mamah melakukan apapun untuk keputusan yang AA ambil ini". Karena tidak bisa diungkapkan sekarang hikmahnya. Mudah2an rekan2 memaklumi, memaafkan, dan siap. Inilah babak baru dalam kehidupan saya, mungkin satu-dua tahun ini akan latihan mengembangkan kemampuan. Sebagai penggantinya, mudah2an ibu2 akan...tempat saya digunakan oleh teh Ninih. Mudah2an akan ada figur ulama lain yang bisa mengisi kekosongan ini, pada saatnya mudah2an AA Gym yang tampil lebih layak disebut ulama daripada sekarang ini yang hanya baru belajar berdakwah biasa. Saya membutuhkan situasi dimana teruji keikhlasan, teruji kegigihan, konsisten dalam kebenaran, apakah karena ALlah ataukah karena mencari kedudukan kepada manusia.


Hujan nih..nulis deh...

hujan euy..udah pengen balik, jadinya ga bisa deh, akhirnya melampiaskan pada blog..
mama.......I miss u much, I know I never say Love to u, but U know my heart tell u how big Love cake for u.
bentar lagi aku pulang...tanggal 25 - 28 januari. akhirnya bisa juga tidur di pangkuanmu lagi..kepalaku ingin kembali di belai olehmu...anakmu telah besar...namun belum dewasa sepenuhnya.

masih kuingat saat aku mengutarakan keinginanku menggenapkan setengah dien ku, tapi ku tahu engkau menginginkanku lulus terlebih dahulu dari kampus perjuangan. masih kuingat saat kau bercerita tentang kegetiranmu..aku ingin berkata "ceritalah sepuasnya mah, sampai kapanpun aku akan mendengarkannya". aku tahu sebagai wanita, engkau lebih butuh didengarkan daripada diberi pendapat.

yah...masih teringat pula sorot matamu saat mengantarku kembali ke bandung, dan itulah salah satu kekuatanku untuk jadi lebih baik..

bagaimanapun kau tak pernah bisa terganti...
Perubahan....

kenapa nama blog ini berubah dari achiever jadi an ordinary man ?
sebuah kontemplasi menyadarkan saya bahwasanya menjadi sosok manusia yang apa adanya akan jauh lebih baik bagi saya. bukan berarti pragmatis, namun entah kenapa ini menjadibuaj\h betapa realisnya diriku. seorang manusia biasa, terdengar sederhana dan sederhana itulah yang mengantarkan pada kebahagiaan, begitulah palgunadi setyaman berkata dalam bukunya daun berserakan.
ya..serakan mimpi saat ini tengah coba ku kumpulkan kembali, memilih dan memilah akan seperti apa hidupku. saat sma sempet terpikir bahwa aku diciptakan untuk ilmu pengetahuan, pas masuk perguruan tinggi jadi lebih pragmatis, kerja , punya istri cakep, kaya raya, anak 5, dan sebagainya. tahun pertama ada yang berubah, benih benih idealisme mulai tertanam seiring pergaulanku..buku - buku yang mulai kubaca..dan banyak lagi
ada kekecewaan, ada kebahagiaan di tahun pertamaku. kehilangan seseorang yang kuanggap sahabat terdekatku, my soulmate, begitulah aku sering berpikir tentangnya. semakin memudar kemudian hal itu, aku tahu aku overestimate terhadap apa yang tengah aku jalani, dan aku menghapusnya untuk sebuah idealisme, sebuah keyakinan, no matter what they say, whatI believe it's true...
sosok ambisiusku belum berubah, dan tidak ingin ku ubah. achiever menjadi jargon pribadiku, dan waktu menggiringku pada sebuah pemahaman, aku adalah manusia biasa, an ordinary man. namun aku ingin melakukan hal - hal yang luar biasa. suatu saat......

Menuju Implementasi Nuklir di Indonesia

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini kita menghadapi pencukupan kebutuhan energi listrik yang amat mendesak. Dibutuhkan sedikitnya 1000 Megawatt untuk mencukupi kebutuhan listrik hingga tahun 2025, karena kebutuhan energi listrik di Indonesia telah mencapai 100 Gigawatt. Nuklir kemudian mengemuka sebagai sebuah alternatif sumber energi untuk mencukupi kebutuhan energi terutama energi listrik Indonesia di masa datang.

Munculnya ide nuklir sebagai sebuah alternatif pemenuhan kecukupan energi Indonesia kemudian memunculkan pro kontra tersendiri di masyarakat dan akan memunculkan polemik yang sama di kalangan dunia internasional. Di kalangan masyarakat, tragedi Chernobyl masih menjadi tameng yang cukup ampuh untuk menghambat implementasi tenaga nuklir di Indonesia. Kita tidak bisa memungkiri dahsyatnya efek yang ditimbulkan oleh tragedi yang disebabkan human error tersebut. Berdasarkan data dari PBB, jumlah korban tewas diperkirakan mencapai 9000 orang akibat kanker yang dipicu bahan radioaktif. Bahkan, dalam konferensi Wina tahun 1966 terungkap bahwa efek yang ditimbulkan berdampak 650 ribu pekerja pembersih muntahan ledakan Chernobyl berisiko besar terkena radiasi tingkat tinggi, kemudian sekitar 30% orang yang berada pada jarak 30 kilometer dari Chernobyl juga terkena radiasi dalam jangka dua tahun.

Akan tetapi melihat perkembangan teknologi yang sedemikian pesatnya termasuk dalam sistem proteksi reaktor, harusnya mampu menjawab keraguan yang ada di masyarakat. Di Indonesia sendiri perkembangan ke arah tersebut telah lebih baik walaupun reaktor yang dipakai masih dalam skala riset. Selain itu, teknologi yang dimiliki Chernobyl jauh lebih tertinggal daripada teknologi proteksi masa kini sehingga secara umum jauh lebih aman. Adapun aspek human error yang menjadi sebab peristiwa Chernobyl bisa diatasi dengan dicetaknya SDM unggul yang berkarakter disiplin tinggi dalam pengembangan energi nuklir terutama dalam mengoperasikannya sehingga kekhawatiran tersebut tidak perlu terjadi. Tentunya pencetakan SDM seperti ini harus menjadi perhatian pemerintah kedepannya terutama kaitannya dengan optimalisasi peran institusi pendidikan sebagai wahana nation building dan character building Indonesia.

Di dunia internasional sendiri, pengembangan energi nuklir masih menyisakan polemik yang dalam, terutama kecurigaan pengembangan senjata nuklir oleh negara – negara kontra-barat. Sebenarnya, dari perjanjian non proliferasi nuklir sendiri yang bertujuan membatasi penggunaan senjata nuklir (Indonesia ikut menandatanganinya), terdapat hak untuk mengembangan nuklir untuk tujuan damai termasuk sebagai sumber energi listrik.polemik yang terjadi sebenarnya lebih didasarkan atas kecurigaan dan kekhawatiran negara – negara maju terhadap kepemilikan nuklir oleh negara – negara yang mereka anggap ‘berbahaya’, sebab seperti sama seperti memberikan pistol kepada anak kecil. Untuk kasus Indonesia sendiri, Indonesia telah mendapat izin dari IAEA untuk mengembangan energi nuklir untuk tujuan damai, tinggal bagaimana kita bisa konsisten dan komitmen untuk mempergunakannya untuk keperluan damai dan tidak tergoda untuk mengembangkannya menjadi senjata pemusnah massal.

Keuntungan yang bisa didapat dari pengembangan nuklir sebagai sumber energi amat menjanjikan. Penggunaan nuklir untuk listrik misalnya, tergolong efisien. Biaya yang dibutuhkan untuk produksi hanya sekitar 4 sen dolar AS per kWh, bandingkan dengan penggunaan minyak mentah untuk keperluan yang sama yang mencapai 11 sen dolar per kWh. Dengan harga listrik yang relatif murah, kesejahteraan rakyat bisa lebih terjamin. Selain itu, iklim investasi pun cukup cerah, kecukupan energi tentunya akan mendorong munculnya industri – industri yang diharapkan mampu mengurangi pengangguran. Dalam aspek dampak lingkungan, penggunaan energ nuklir diharapkan mampu menekan emisi karbon, namun limbah yang ditimbulkan harus menjalani treatment yang sesuai sehingga aman bagi lingkungan

Hal – hal yang harus disiapkan

Ada banyak hal yang harus sudah disiapkan menuju implementasi nuklir di Indonesia. SDM Indonesia saat ini masih dianggap kurang memadai dalam mengembangkan energi nuklir terutama dalam hal kedisiplinan. Selain itu, dalam segi penguasaan teknologi, kita masih tertinggal jauh dari negara – negara pengembang energi nuklir. Jika teknologi ini masih belum dikuasai Indonesia kemudian kita sudah beranjak ke pemanfaatan energi nuklir, maka ketergantungan akan asing akan bertambah besar dan ini tidak menguntungkan kita.

Pembenahan infrastruktur transportasi harus dilakukan pula. Hal ini sangat penting, kaitannya dengan pemerataan energi kedepannya. Salah satu sebab belum meratanya pemenuhan energi listrik di Indonesia adalah belum memenuhinya infrastruktur transportasi sehingga perjalanan antar daerah terutama menuju ke daerah indonesia bagian timur amat sulit dan mahal. Hal ini akan berefek pada membengkaknya biaya operasional dari pembangkit energi tersebut nantinya. Maka pemerintah harus membuat perencanaan strategis pola hubungan antar daerah, dan penggunaan pesawat terbang sebagai solusinya amat menjanjikan.

Selain itu pencerdasan masyarakat perlu dilakukan. Salah satu hal yang menghambat penggunaan nuklir ini adalah masyarakat yang mudah dihasut untuk menolak penggunaan nuklir dan hal ini disebabkan minimnya pengetahuan mereka tentang kemajuan teknologi nuklir masa kini. Perlu penyadaran publik pada manfaat nuklir dan pelurusan persepsi terhadap penggunaan nuklir untuk menghapus aspek traumatis kasus masa lalu.

Kontemplasi diri.....


hari - hari ini tiba tiba menjadi hari kaleidoskop memori diri diputar ulang. kunjungan ke tempat kost yang lama membuatku rindu akan masa - masa itu. aku merasa, ketika di kost itulah aku merasakan adanya ukhuwah yang dalam, walaupun tingkat kepahaman islam masing - masing individu berbeda. hal ini tidak kutemui di organisasi maupun di tempat tinggalku yang baru, sebuah asrama. aku memang mencoba kebiasaan - kebiasaan yang aku lakukan di tempat kostku yang lama, berkunjung dari kamar ke kamar untuk ngobrol, tapi yang kurasakan hampa. jarang ada tawa renyah, saling ledek, bahkan sekedar minta mp3 namun berkesan. semuanya menjadi serba kaku, dingin, beda interest, penuh kompetisi, penuh kecurigaan menyembunyikan peluang berprestasi. aku rindu suasana nonton bareng dengan gurauan persahabatan, aku rindu suasana makan bareng di warung makan dekat pasar balubur, aku rindu diledekin lagi karena aku angkatan termuda. aku rindu suasana egaliter sebuah rumah...tapi justru kerinduan itu semakin berarti bila kita tidak menjalaninya lagi...

hope to see u again bang anto, readone, bang ded, bang brian, MAW, bang hendra, bang dessy, bang simpari

berlanjut kemudian, tiba - tiba aku menemukan sebuah buku, buku 'hitam' yang entah barangkali aku telah lupa. tempat aku menuliskan puisi - puisi melankolik romantik tentang seseorang, tempat aku melukiskan ungkapan yang tak sempat terungkap lewat kata, hanya dengan pandangan mata. sudah lama..dan aku memutuskan memplesternya untuk mencegahku membuka memoar itu..sejenak terpikir untuk membukanya, namun sulit..sulit sekali hatiku untuk membukanya. keinginan yang dulu sejenak mengemuka, tapi tebasan pedang keinginan memotong keinginan itu, buku itu kembali aku simpan, memoar yang akan mampu merusak ukhuwahku, penyakit akut yang meracuniku. sejenak ku duduk dengan jari - jemariku menari - nari diatas tuts keyboard menulis sesuatu yang tak aku pikirkan lagi.

sejenak ku teringat rumahku. untaian kebahagiaan pernah kualami, tapi ternoda kala ku kelas 5 SD dengan usia sekitar 10 tahun. mendengar yang belum layak kudengar, menyaksikan sesuatu yang belum layak disaksikan bagi anak seusiaku adalah sebuah bentuk perusakan karakter, hingga kini aku merasa sulit untuk berkata 'cinta' pada orang yang memang kucinta, arus kemunafikan cinta terasa mengkontaminasi mulutku, mengkakukan otot lidah dan bibirku untuk berkata 'cinta'. kemudian hari - hari selanjutnya banyak air mata yang tumpah, bukan hanya diriku namun orang - orang yang kucintai. betapa sakit menyaksikan orang yang kucinta, orang yang rela kutebus kebahagiaannya dengan darahku menangis, berkeluh kesah, dan jatuh...betapa sakit saat aku pura - pura tidur demi mendengar orang yang kucinta menceritakan semuanya pada orang yang ia percaya. betapa sakit ketika aku merasa tak mampu berbuat apa - apa melawan semua kemunafikan ini, semua penghambaan pada nafsu dunia ini, semua gunjingan orang, semua realitas yang meluncur dari orang yang kucinta. semuanya itu tiba - tiba membekas dalam karakter dingin dan kaku diriku. aku sejenak merasa ingin mendapat kehangatan jiwa untuk meleburkan dinginnya jiwaku.kemudian aku merasa bahwa aku membantuk karakter pribadiku sendiri..dari cerita, dari apa yang kusaksikan, dari idealismeku.

Thursday, December 14, 2006

Perancangan Model Pengolahan Sampah Sebagai Bahan Green Electricity Menggunakan Plasma


Permasalahan sampah menjadi problematika yang cukup serius yang tengah dihadapi kota – kota besar di Indonesia saat ini. Problematika tersebut lebih disebabkan paradigma masyarakat kita yang memandang solusi masalah sampah adalah dengan membuangnya. Kemudian timbullah permasalahan dengan tidak adanya ruang pembuangan sampah. Kemajuan teknologi dewasa ini telah mampu membantu menyelesaikan permasalahan ini dan diharapkan pula mampu mentransformasi paradigma masyarakat kita bahwa penyelesaian terbaik masalah sampah adalah dengan mengelola dan mengolahnya.

Di sisi lain, kondisi kecukupan energi listrik di Indonesia pun mengalami krisis pula. Negeri ini masih membutuhkan sekitar 6000 MW energi listrik untuk mencukupi kebutuhan sehari – harinya. Hal ini diperparah dengan mahalnya bahan bakar pembangkitan yang pada umumnya berasal dari bahan unrenewable seperti minyak bumi atau batu bara.
Perkembangan teknologi yang sedemikian pesatnya mampu menghadirkan solusi bagi kedua permasalahan ini, yaitu pengolahan sampah sebagai sumber energi listrik. Banyak metode yang bisa digunakan dalam pengolahan sampah menjadi sumber energi listrik ini, salah satunya menggunakan plasma.

Plasma adalah gas terionisasi yang diperoleh dengan menambahkan energi pada gas sehingga elektron terlucuti dari atom. Untuk membangkitkan energi listrik, proses pertama yang harus dilakukan adalah gasifikasi plasma. Gasifikasi plasma adalah proses pengubahan material atau zat dalam lingkungan yang kurang oksigen untuk mendekomposisi sampah ke dalam struktur dasarnya. Gasifikasi plasma tidak membakar sampah seperti yang dilakukan oleh incenerator, tetapi mengubah bahan – bahan organik menjadi fuel gas yang masih memiliki energi kimia dan energi panas dari sampah dan mengubah bahan anorganik menjadi gelas kaca. Temperatur yang dimiliki plasma pada proses gasifikasi ini mampu mencapai 8000o C.
Pada proses gasifikasi plasma, sampah dimasukkan ke dalam konverter dimana dilakukan proses gasifikasi tersebut. Generator plasma kemudian menyuplai panas yang dibutuhkan untuk menginisiasi proses gasifikasi tersebut dan mengontrol temperatur konversinya. Proses konversi ini kemudian menghasilkan syngas (synthesis gas – syngas / fuel gas) panas (kira – kira 1000oC) yang kaya akan CO2 dan H2 serta bahan yang tidak dapat diuraikan lagi seperti metal dan gelas. Syngas panas itu kemudian masuk ke dalam tempat manajemen kualitas dari gas tersebut.

Hasil proses gasifikasi yang berupa gas sintesis/ syngas inilah yang akan digunakan untuk memproduksi listrik. Proses pembangkitan energi listrik ini mengacu pada kombinasi siklus pembangkitan tenaga sebab tenaga listrik yang dihasilkan diperoleh dari syngas dan uap yang terbentuk selama proses ini berlangsung. Syngas yang bersih dan dingin itu kemudian disalurkan ke dalam peralatan pembangkit tenaga bisa berbentuk hubungan seri dengan turbin uap. Dalam proses ini, listrik dibangkitkan petama kali. Sisa pembakaran dari peralatan pembangkitan tenaga ini digunakan untuk menciptakan uap di ketel pengendali panas sisa pembakaran. Sisa pembakaran yang telah didinginkan dan ramah lingkungan dalam ketel tersebut kemudian dilepaskan ke udara. Kemudian uap yang dihasilkan dari proses gasifikasi dan yang berasal dari ketel pengendali panas sisa pembakaran itu dimasukkan ke dalam turbin uap untuk membangkitkan listrik lebih banyak. Sebagai bahan perbandingan, di Amerika pembangkit ini telah mampu mengolah sampah sebesar 30 juta ton setiap tahunnya dan mampu membangkitkan l;istrik sebesar 2816 Megawatt per jam.

Diharapkan, perancangan model ini mampu menjadi solusi bagi permasalahan bangsa ini yaitu sampah. Model ini diharapkan mampu menjadi media dalam mengelola dan mengolah sampah sehingga sampah mampu bernilai ekonomis dan mampu berkontribusi bagi kesejahteraan rakyat. Disamping itu, model ini diharapkan mampu menjadi solusi krisis energi sebab mampu menghadirkan sumber energi baru yang renewable dan murah.

Wednesday, December 13, 2006

Kepahlawanan Kolektif, Introspeksi dan Visi
Habiburrohman Fajarsyah, Teknik Elektro ITB


“ Manusia dengan segala keterbatasannya tidak akan mampu menjadi superman, namun dengan kelebihannya mampu menjadi superteam “

Layakkah bangsa ini terpuruk? Bangsa ini memiliki banyak kelebihan dalam segi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia. Namun, potensi sumber daya manusia yang sedemikian besarnya belum mampu mengeksplorasi sumber daya alam yang ada sehingga mampu mendatangkan kemakmuran bagi bangsa ini.

Manusia bangsa ini bukan manusia – manusia bodoh. Anak – anak bangsa kita mampu meraih prestasi terhormat dalam pentas ilmu pengetahuan tingkat dunia sekalipun, melalui olimpiade. Putra – putra bangsa ini juga yang mampu berbicara di pentas internasional melalui karya monumentalnya seperti Pak Habibie. Berapa banyak elemen bangsa ini yang bergelar Doktor bahkan Profesor, namun kedaan bangsa ini masih saja carut marut.

Kita memang memiliki kecerdasan yang mampu bersaing dalam tataran internasional dalam ruang lingkup individu, namun ketika berbicara dalam tataran kolektif, masih ada yang harus dikompromikan antar individunya. Ketika kita masih berada dalam kondisi menyamakan kepentingan antar individu artinya kita belum memiliki satu visi kebangsaan yang sama. Ambil contoh dalam aspek teknologi. Teknologi saat ini masih terparsialkan dalam penentuan kebijakan politik kita yang masih sebatas suara dan lobi, belum menyentuh konten. Harus ada mainstream politik baru yang mengintegrasikan semua aspek sehingga politik kita berhasil menyentuh aspek konten politiknya tidak sebatas suara dan lobi semata.

Kita pernah melewati sebuah masa yang singkat dimana aspek – aspek kehidupan dari sosial, politik, ekonomi, teknologi berjuang bersama dalam mengangkat kondisi bangsa. Hanya saja aspek budaya dan pertahanan keamanan masih menjadi kendala utama yang merusak harmonisanya selain politik yang memang bermata dua. Masa itu adalah masa Habibie menjabat sebagai presiden. Konsep Habibienomics yang mengedepankan produksi demi mengangkat perekonomian mampu menaikkan kondisi perekonomian kita yang masih terpuruk menjadi lebih baik, walaupun belum baik benar. Sekilas konsep ini menyerupai konsep reformasi ekonomi Park Chung Hee saat mejabat sebagai presiden republik korea. Konsep Industrialisasi berbasis ekspor ternyata berimbas besar pada kehidupan perekonomiannya jauh setelah ia tidak berkuasa lagi. Ketahanan ekonomi mikro yang terbentuk dari mapannya industri rumah tangga mampu membuat Korea menjadi negara pertama yang lepas dari jeratan krisis ekonomi yang melanda Asia tahun 1998. Kemapanan bangsa ini turut dubangun oleh kebijakan ekonomi, pemanfaatan teknologi, kebijakan politik, sosial kemasyarakatan, dan budaya bangsa, semuanya terintegrasi.

Ketika berbicara tentang integrasi semua aspek kehidupan, kita butuh figur – figur yang memiliki spesialisasi dalam keilmuan dan wawasan global dalam tingkat pemikiran sehingga mainstream ini mampu menjadi masif dan memfasilitasi transformasi kehidupan bangsa ini. Kita sudah tidak akan membicarakan lagi figur – figur ratu adil yang dikultuskan, tapi sebuah sistem besar transformasi dengan figur – figur itu sebagai instrumen utama penggeraknya. Kekolektivitasan menjadi sebuah energi dalam menggerakkan sistem besar ini, sinergi menjadi senjata utama sistem ini.

Justru disinilah letak problematikan krusial bangsa ini. Untuk menjamin harmonisasi kekolektivitasan, kesediaan figur – figur untuk ’hanya’ menjadi instrumen sistem amat dibutuhkan, loyalitas inilah yang memang kurang dipunya oleh bangsa ini. Kepentingan dan ambisi pribadi masih menjadi hal yang begitu menggoda bagi figur untuk ’berjuang’ sedangkan urusan kompetensi dan spesialisasi entah ditempatkan di nomor berapa. Padahal, kepahlawanan kolektif ini bergantung pada spesialisasi dan kompetensi instrumen – instrumennya. Kita bisa belajar dari masa penaklukan Persia dimana orang – orang sekaliber Umar, Abu Bakar, Abu Ubaidah ditempatkan sebagai prajurit biasa dibawah kepemimpinan seseorang yang memiliki pengalaman dan kemampuan di bawah mereka yaitu amr bin Ash. Mereka tidak lantas mengajukan mosi tidak percaya atau bahkan melakukan makar, sekali – kali tidak. Tapi mereka melakukan tugasnya dengan sebaik – baiknya.

Pada akhirnya, sebuah mainstream pergerakan yang mengkombinasikan serta memaksimalkan potensi dan kapabilitas instrumennya akan mampu mewujudkan cita – cita besar bangsa Indonesia, menjadi bangsa yang gemah ripah loh jinawi, baldah thoyyibah wa rabbun ghafur. Bahkan, untuk mewujudkan cita – cita itu, seorang superman pun tak akan mampu, tapi sebuah superteam punya kans besar mewujudkannya, tinggal bagaimana memfokuskan kerja instrumen – instrumennya dan merangkai kerja dan karyanya menjadi tinta emas yang menghiasi sejarah bangsa ini.


“Sekolah Pendidikan Karakter”


“Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, tetapi manusia yang berkarakter tidak diperoleh begitu saja. Pangkal segala pendidikan karakter adalah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar…” (Mohammad Hatta)
Ramadhan Syahrul Tarbiyah telah datang, input Ramadhan berupa orang – orang beriman hendak diproses agar menjadi orang – orang yang bertakwa. Pada takwa ada kata melaksanakan perintah Allah dan menjauh laranganNya, artinya sebuah kemampuan menunjukkan puncak – puncaknya iman melalui amal nyata yang terlihat di keluhuran akhlaknya.
Apabila imannya belum terejawantahkan dalam akhlak takwanya, maka belum sempurna iman seseorang tersebut, seperti yang termaktub dalam hadits
“ Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka “ (H.R Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Salah satu pengejawantahan iman dalam akhlak adalah cintanya kita pada kebenaran dan keberanian mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan nilai – nilai kebenaran.
Bangsa ini tengah mengalami relativitas dalam memaknai kebenaran. Ada kebenaran menurut diri sendiri, menurut masyarakat, menurut hukum dan menurut agama. Poin yang terjadi di bangsa ini adalah masih ada gap dalam pemaknaannya. Kebenaran menurut diri sendiri, yang lebih layak disebut pembenaran, kental kaitannya dengan kepentingan pribadi seseorang terhadap sesuatu. Misalnya seorang artis yang rela memamerkan aurat atas nama estetika demi memperoleh penghasilan. Menurutnya hal itu benar menurutnya karena bernilai estetik, tapi bagi umat, tentunya bertanya etikanya dimana. Disini memang amat terlihat adanya penyimpangan pemikiran yang berakibat terjadinya paradoks antar nilai, dan ini terjadi karena pribadi tersebut belum memiliki dasar pemikiran yang kuat dalam memandang sesuatu hal secara menyeluruh untuk menentukan kadar kebenaran dari sesuatu hal.
Bukti lain adanya relativitas pemaknaan kebenaran adalah budaya main hakim sendiri di masyarakat. Bangsa ini telah menjadi bangsa yang barbar akibat pemahaman yang berbeda dalam menyikapi sesuatu hal tindakan kriminal sehingga diambil langkah – langkah yang cukup ’kriminal’ juga oleh masyarakat dan ini tidak dianggap salah olehnya. Apakah ini adalah buah dari pemaknaan kebenaran oleh masyarakat ?
Bangsa ini pun menjadi sedemikian permisifnya bisa jadi akibat dari pemaknaan kebenaran yang kurang tepat juga. Nilai – nilai positif bangsa tergusur oleh arus mode hasil globalisasi dan liberalisme. Lihat saja dari bagaimana kaum muda kita berpakaian dan bertingkah laku seperti budaya barat, dan itu lagi – lagi tidak dianggap salah oleh masyarakat. Bahkan tidak dianggap modern, orang – orang yang tidak mengikuti mode yang bersumber dari barat. Fenomena ini menggiring pada kenyataan bahwa kebenaran dalam masyarakat tidak selalu baik bagi masyarakat tersebut.
Kebenaran dalam masyarakat ini erat kaitannnya dengan media massa dan institusi pendidikan. Saat ini peran institusi pendidikan dalam membentuk karakter masyarakat dan menghadirkan pemahaman akan makna menyeluruh sebuah kebenaran kalah oleh pengopinian publik oleh media massa yang banyak menyajikan kebenaran rancu yang penuh kepentingan. Efisiensi institusi pendidikan masih amat rendah dalam menghasilkan individu – individu berkarakter yang memiliki visi kebangsaan, sedangkan efisiensi media massa dalam mencetak individu hedonis dan pragmatis cukup besar.
Hal yang harus diperkuat sebab hal itu merupakan inti pengendali kebenaran pribadi dan masyarakat adalah kebenaran dalam hukum dan agama. Kondisi bangsa ini adalah hukumnya masih belum independen sehingga kebenarannya bisa diperjualbelikan, dan bangsa ini kondisi kehidupannya masih penuh dengan sekularitas yang meletakkan agama sebatas tempat ibadah dalam suatu ritual. Namun, adakalanya pada momen – momen tertentu kebenaran yang hakiki mengemuka, salah satunya adalah Ramadhan.
Ramadhan tentunya menjadi saat yang strategis untuk menghadirkan kembali kecintaan pada kebenaran yang bersumber dari fitrah. Pada bulan ramadhan, syiar keagamaan begitu nyata gaungnya dan orang – orangnya pun terkondisikan untuk menerima kebenaran dan mencintainya. Masjid – masjid mulai kembali ramai dikunjungi orang yang walaupun datang untuk berbuka puasa dan sholat maghrib tentunya dan terlihat makmur dengan kegiatan islami.
Kecintaan pada kebenaran pun muncul dan dahsyatnya hal ini dibarengi dengan keberanian dalam mengatakan salah pada hal yang bertentangan dengan nilai kebenaran. Seperti ketika seorang mahasiswa yang kesehariannya ’gaul abis’ kala melihat temannya mencontek pekerjaan rumah miliknya, dia menegurnya bahwa Bulan Ramadhan tidak boleh mencontek sebab bisa merusak pahala puasa katanya. Luar biasa sekali, bahwa pangkal dari pendidikan karakter itu muncul disana, pada momentum Ramadhan ini.
Ada harapan besar akan terintegrasinya kebenaran – kebenaran individu, masyarakat, hukum dan agama ketika kedatangan Bulan Ramadhan ini. Harapan akan menyemainya benih – benih karakter cinta pada kebenaran dan keberanian mengatakan kebenaran dari terintegrasinya pemahaman tentang hakikat kebenaran itu, akan menjadi pertanda lahirnya pribadi – pribadi berkesadaran. Kelahiran pribadi – pribadi ini menjadi sebuah keniscayaan atas perubahan menuju kemajuan peradaban sebuah bangsa. Sebab bagaimana mungkin seorang individu akan melakukan perubahan sedangkan ia sendiri tidak memiliki kesadaran atas hal apa yang harus diubah.
Maka inilah individu itu, individu yang sadar akan realitas ditengah idealitas mereka. Merekalah yang akan berjuang, memperjuangkan nilai - nilai kebenaran yang diperoleh lewat kesadarannya akan realitas. Merekalah yang akan mentransformasi kebenaran masyarakat yang akan menjadi tanda lahir peradaban. Peradaban inilah yang akan melahirkan hukum yang independen, bebas dari kepentingan siapun, hukum yang tidak memihak rakyat atau penguasa, namun hukum yang memihak kebenaran
Sekali lagi, kebenaran yang mereka perjuangkan bukan kebenaran perut mereka. Namun kebenaran yang diperoleh dari akal dan hati mereka yang bersumber dari fitrah. Dan merekalah pribadi – pribadi yang akan diwisuda oleh sekolah pembentukan karakter berkurikulum langit yaitu Ramadhan. Mereka adalah orang – orang beriman yang akan melalui proses pembelajaran dan penempaan sehingga saat berakhirnya masa ajaran, akan mampu menampakkan puncak – puncak keimanan mereka melalui akhlak takwanya. Merekalah yang akan membidani persalinan peradaban baru bangsa mereka menuju peradaban yang berlandaskan nilai – nilai kebenaran hakiki, berdasarkan iman. Semoga bangsa itu adalah bangsa ini, Indonesia.
Ratu Adil itu Seorang Pemimpin Pemikiran (?)

Momen kemerdekaan mengingatkan kita kembali pada momen kelahiran bangsa ini. Dalam setiap proses kelahiran, senantiasa ada sakit penderitaan yang dirasakan dan ada tangis yang mengiringi, ada juga kegelisahan yang menyelimuti. Tangis penderitaan dan kegelisahan yang telah menyelimuti rakyat Indonesia berabad – abad lamanya yang memuncak pada haru birunya 17 Agustus 1945.
Seiring dengan melajunya roda waktu, 17 Agustus selalu diperingati tiap tahunnya dengan beraneka ragam cara. Banyak kegembiraan yang membuncah setiap tahunnya kala datang hari ini. Namun, apakah ditemukan tangisan atau barangkali sekedar kegelisahan pikiran dalam masyarakat bangsa ini kala datangnya hari merdeka ini. Bisa jadi Ibu Pertiwi yang tengah bermuram hati justru mengharapkan hal ini !
Bagaimana tidak, telah 61 tahun bangsa ini menyatakan diri merdeka dan berdaulat penuh di bumi Indonesia, namun perbaikan bangsa belum berjalan sebagaimana mestinya bahkan bangsa ini malah didera krisis multidimensi berkepanjangan. Pertanyaannya, apakah bangsa ini telah berjalan di arah yang tepat menuju perbaikan dan kemajuan, atau malah salah jalan? Jika pertanyaan ini timbul, maka sejatinya bangsa ini telah tersesat, bangsa ini butuh penunjuk jalan yang tahu jalan mana yang harus di tempuh dan pergi bersama dalam mengarungi jalan itu. Bangsa ini butuh pemimpin.
Tapi pemimpin bukan sembarang pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini. Bukan golongan pemimpin penggerak massa, sebab pemimpin itu telah ada di depan rakyat. Bukan pula pemimpin spiritual, sebab ia telah ada di tengah-tengah rakyat. Bukan pula pemimpin politik, sebab ia rajin sekali mengunjungi rakyat.
Yang rakyat bangsa ini butuhkan adalah pemimpin pemikiran yang mampu menyuarakan pikiran rakyat saat rakyat diam tak berkutik. Yang mampu membentuk pemikiran cerdas rakyat, dan mampu mengkonstruksi jiwa – jiwa dan pemahaman rakyat dan merangkainya menjadi pola – pola peradaban. Yang paham akan problematika umat dan tahu jalan solusinya. Yang mampu memberikan kontribusi pemikiran dalam mengimplementasikan Islam dan kesempurnaan dan universalitasnya dalam suasana kehidupan modern. Hal yang terakhir menjadi sebuah keniscayaan dalam sebuah kehidupan dunia fakta – fakta dimana ideologi atau faham tidak dilihat dari benar atau salahnya akan tetapi dari fakta – fakta yang mampu ditampilkannya.
Bangsa ini pernah memiliki tipe pemimpin seperti ini. Muhammad Hatta. Dua dimensi kehidupan seorang Hatta yaitu sebagai seorang tokoh politik sekaligus pemikir dan penulis produktif membuat kontibusi multidimensi dalam kehidupan kebangsaan. Kontribusi multidimensinya tersebut yang mampu menempatkan dirinya sebagai seorang pemimpin pemikiran yang turut merekonstruksi kehidupan bangsa di segala bidang. Sumbangan pemikirannya masih dirasakan hingga sekarang misalnya dalam bidang politik, beliau memandang sisten politik yang multipartai cocok di Indonesia mengingat majemuknya kehidupan bangsa, serta dalam bidang ekonomi dan industri, perjuangan beliau memasukkan konsep ekonominya serta koperasi ke dalam UUD 1945 dimaksudkan untuk memajukan ekonomi rakyat yang sebagian besar berada di pedesaan. Konsep Islam dalam dirinya pun turut mengkonstruksi pemikirannya. Islam yang dipahaminya dengan nuansa dan semangat intelektualitasnya mendasari pernyataan beliau bahwa keadilan sosial dan ekonomi merupakan amanat ajaran tuhan. Pemikiran beliau pun sampai pada tataran pembentukan manusia melalui aspek penekanan kaderisasi kepartaian yang ditonjolkan daripada aspek pengerahan massa yang populer pada zamannya.
Namun, sekali lagi, kepemimpinan adalah kontekstual, sesuai dengan zamannya. Seorang pemimpin pemikiran bukan hanya orang yang memiliki ide – ide besar dan konsep – konsep matang, namun juga orang yang mampu mengkonstruksikan pemikirannya menjadi sebuah gerakan massive perubahan. Hal ini menjadi tantangan mendasar bagi seorang pemimpin pemikiran sebab ketinggian pemikirannya sering kali menempatkannya di masa depan tanpa membumikannya di masa kini yang berakibat pemikirannya hanya sebatas wacana. Ingatkah anda akan Soe Hok Gie?
Rakyat bangsa ini tengah menunggu datangnya ratu adil. Namun, kita, mahasiswa tidak akan pernah menunggunya. Tapi, kita harus memposisikan diri-diri kita sebai agent of change yang konsep perubahan yang diusungnya harus terlebih dahulu matang di tataran pemikiran. Kita harus memosisikan diri kita sebagai guardian of value dimana nilai – nilai itu telah mengakar dalam hati dan akal pikiran kita.
Kitalah generasi ratu adil yang ditunggu – tunggu itu, kitalah benih – benih pemimpin pemikiran itu. Dan kita akan memerdekakan bangsa ini dengan kemerdekaan yang sejati. Kemerdekaan dari penjajahan pemikiran yang telah membelenggu sekian lama. Dan modal utama meraih kemerdekaan adalah Tauhid. Tiada ilah yang harus kita cintai, takuti, harapkan, selain Allah. Inilah kemerdekaan sejati itu.